Selamat Datang di Blog Saya

sponsor link

TrafficRevenue
Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Saturday, April 9, 2011

Seni Tari Lampung

Tari malinting ::

salah satu kesenian tradisional yang hidup di desa wana adalah tari melinting. Di lihat dari sejarahnya, tarian ini merupakan tari adat tradisional keagungan keratuan melinting yang diciptakan oleh ratu melinting yaitu pangeran panembahan mas, yang dipentaskan pada saat acara gawi adat (betawi). Tari melinting ini merupakan tari tradisional lepas untuk hiburan pelengkap pada saat acara gawi adat.


Fungsi tari melinting dahulu merupakan tarian keluarga ratu melinting dan hanya dipentaskan oleh keluarga ratu saja ditempat yang tertutup (sessat atau balai adat), tidak boleh diperagakan oleh sembarang orang. Pementasannya pun hanya pada saat gawi adat keagungan keratuan melinting saja. Personal penarinya pun hanya sebatas pada putra putrid ratu melinting.


:: Tari jangget :: 

tari jangget, adalah tarian untuk upacar-upacara peradatan. Tarian ini melambangkan keluhuran budi dan susila rakyat lampung.




:: Tari bedana ::

tari bedana adalah tari muda/i lampung. Tarian ini biasa dibawakan oleh pemuda/i dalam acara2 adat dan acara2 yang tidak resmi sebagai ungkapan rasa gembira.




:: Tari sembah ::

salah satu jenis tarian yang terkenal adalah tari sembah.ritual tari sembah biasanya diadakan oleh masyarakat lampung untuk menyambut dan memberikan penghormatan kepada para tamu atau undangan yang datang, mungkin bolehlah dikatakan sebagai sebuah tarian penyambutan. Selain sebagai ritual penyambutan, tari sembah pun kerap kali dilaksanakan dalam upacara adat pernikahan masyarakan lampung.

Spoiler f

Sunday, November 14, 2010

Arsitektur Tradisional

Karakteristik rumah tradisional Lampung adalah rumah panggung yang memiliki pilar kayu. Kita dapat melihat karakteristik tersebut dio Jabung, Kenlai, Mulang Maya, Labuhan Meringgai dan lain-lain. Sementara di kota-kota besar, kita sudah tidak dapat lagi menyaksikan karakteristik seperti ini.

Dari semua karakteristik bangunan, dapat dikelompokkan ke dalam beberapa kategori berdasarkan fungsi bangunan tersebut, yaitu :
Sebuah rumah untuk keluarga kecil,disebut Nuwo Menyanak,
Rumah besar atau rumah serbaguna untuk keluarga besar, disebut Balak/Nuwo Balak
Sessat adalah bangunan tradisional, di mana pertemuan diadakan (balai adat)
Rumah adat penyeimbang, dihormati oleh semua lapisan masyarakat adat dan secara fisik mempunyai spesifikasi pada ornamen.

Seni Kerajinan

Suatu makna tertentu sering kali dijumpai pada corak busana suku-suku bangsa di indonesia.
Corak dan motif pakaian di Sumatera bagian Selatan (termasuk Lampung) biasanya terbuat dari bahan katun yang tidak diwarnakan atau kadang-kadang berwarna terang dijalin dengan rajutan timbul warna-warna merah, biru, dan krim membentuk gambar-gambar kapal, rumah tradisional, kuda, manusia, bahkan kadang-kadang gajah.
Akan tetapi motif yang lama adalah bentuk-bentuk kapal. Bentuk motif kain yang disebut Kain Kapal. Batik Lampung ( Kain Sebagi ) mulai dikembangkan sejak 6 s/d 7 tahun terakhir.



Kain Tapis biasanya dibuat oleh kaum wanita dipergunakan pada upacara-upacara adat, menyambut tamu agung, pesta perkawinan secara adat, dan upacara adat lainnya.

Tradisi

Adat istiadat dan kehidupan tradisional menjadi ciri khas suku-suku bangsa Indonesia, yang sebagian besar menjadi penduduk daerah ini.
Namun demikian beberapa tradisi asli upacara cakak pepadun ( upacara pelantikan untuk memegang suatu jabatan/kedudukan dalam adat )

Pemberian gelar ( adok/adek ) dalam upacara perkawinan adat biasanya diikuti oleh seluruh masyarakat adat yang bersangkutan dan berlangsung cukup hikmad dan lama.

Minggu pertama diadakan acara rapat kampung ; pada minggu kedua mempersiapkan segala keperluan dan sampai kepada upacara pernikahan. Upacara tersebut di atas sering juga disertai dengan acara-acara kesenian, pesta khusus muda-mudi seperti muakhi/jaga damar, dan sebagainya.

Masyarakat Adat






Masyarakat adat Lampung berdasarkan lokasi kediamannya dibedakan menjadi 2 yakni : Masyarakat Lampung Peminggir/Sebatin dan Pedalaman/Pepadun.
Dalam adat masyarakat Lampung terdapat pemimpin adat yaitu :

Penyimbang Adat, adalah Penyimbang keturunan para pendiri marga, tiyuh, dan suku Perwatin adat atau mufakat ( carom ) pada masyarakat merupakan majelis tertinggi adat yang memutuskan segala macam masalah adat, yang diketuai oleh penyimbang.
Penyimbang Pangkat, yakni Penyimbang yang membentuk kepenyimbangan tersendiri dengan syarat tertentu.

Pada tahun 1928 pemerintah Hindia Belanda mengatur kembali Struktur persekutuan Hukum adat yang berbentuk Marga, melalui Marga Regering Voor de Lampungche Districten, sehingga di Lampung terdapat 83 marga. Sebanyak 78 marga yang disebutkan di atas merupakan ,marga mayoritas berpenduduk lampung asli


TUJUH PEDOMAN HIDUP ORANG LAMPUNG
1. Berani menghadapi tantangan: mak nyerai ki mak karai, mak nyedor ki mak bador.
2. Teguh pendirian: ratong banjir mak kisir, ratong barak mak kirak.
3. Tekun dalam meraih cita-cita: asal mak lesa tilah ya pegai, asal mak jera tilah ya kelai.
4. Memahami anggota masyarakat yang kehendaknya tidak sama: pak huma pak sapu, pak jelma pak semapu, sepuluh pandai sebelas ngulih-ulih, sepuluh tawai sebelas milih-pilih.
5. Menyadari bahwa hasil yang kita peroleh tergantung usaha yang kita lakukan: wat andah wat padah, repa ulah riya ulih.
6. Mengutamakan persatuan dan kekompakan: dang langkang dang nyapang, mari pekon mak ranggang, dang pungah dang lucah, mari pekon mak belah.
7. Arif dan bijaksana dalam memecahkan masalah: wayni dang robok, iwani dapok

Bahasa Daerah

Dr. Van Royen membagi bahasa daerah Lampung dalam 2 dialek, yaitu dialek Nyo dan dialek Api. Kita dapat membedakan antara yang diucapkannya memakai a, o, atau ou. Dialek a digolongkan dalam dialek Belalau, dialek o dan ou digolongkan dalam dialek Abung. Sedangkan van der tuuk membagi bahasa Lampung dalam dialek Abung dan dialek Pubian.

Encylopaidie Van Nederlands Indie menyebutkan bahwa bahasa Lampung adalah bahasa yang dipakai oleh penduduk di Karesidenan Lampung termasuk daerah Komering ( dalam Karesidenan Palembang ) dan daerah Krui.
Masyarakat Lampung yang mempunyai tradisi asli warisan dari zaman Malayo Polinesia, juga mempunyai tulisan tersendiri yang disebut huruf / aksara Lampung ( Kaghanga ) mirip huruf Palawa Hindu.